Berjuang Bersama Gerindra dan Prabowo Subianto

Mengamalkan TRIDHARMA Kader Partai Gerindra : Berasal Dari Rakyat, Berjuang Untuk Rakyat, Berkorban Untuk Rakyat.

Heri Gunawan Seminar Nasional

Tantangan dan Peluang Bisnis bagi Generasi Milenial.

Jalan Santai

JHeri Gunawan Apresiasi Peluncuran Program Pemuda Pelopor Desa di Sukabumi

Kunjungan Ketua Umum GERINDRA

Prabowo Subianto Melakukan Kunjungan ke Sukabumi

Bantuan Hand Traktor

Heri Gunawan Memfasilitasi Bantuan 30 Unit Traktor Untuk Gapoktan di Kabupaten Sukabumi Pada Tahun 2015

Kunjungan Kerja BKSAP DPR RI Ke Australia

Heri Gunawan Sebagai Anggota BKSAP DPR RI saat berkunjung dan berdialog dengan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Australia

Tampilkan postingan dengan label Kementerian Luar Negeri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kementerian Luar Negeri. Tampilkan semua postingan

Heri Gunawan: Konflik Natuna Merupakan Perebutan Sumber Daya Alam

JAKARTA (CendanaNews) --- Insiden pelanggaran perbatasan perairan (Teritorial) yang dilakukan nelayan Tiongkok di wilayah perairan Natuna Indonesia, dinilai melecehkan Kedaulatan.

Mantan Wakil Ketua Komisi VI yang sekarang menjadi anggota Komisi XI DPR RI, Heri Gunawan menilai, sikap yang ditunjukkan Kapal Coast-Guard China yang terkesan menghalang-halangi kapal Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) di Wilayah NKRI tersebut, mestinya dipandang sebagai bentuk pelecehan terhadap kedaulatan Republik Indonesia.

“China mengklaim, bahwa nelayannya melakukan kegiatan masih diwilayah perairannya, hal ini sama sekali tidak memiliki landasan yang kuat berdasarkan peraturan hukum laut internasional,” Sebut Heri dalam rilis yang diterima Cendana News di Jakarta, Jumat (25/3/2016).

Heri mengatakan, masalah klaim negeri tirai bambu, tentang traditional "fishing zone" tidak tercantum dalam The United Nations Convention on The Law of The Sea (UNCLOS).

“Toh Kalaupun ada tentang traditional fishing rights itu harus atas kesepakatan bersama diantara negara, jadi klaim tersebut tidak berdasar sama sekali,” tegasnya

Jadi, sambung Heri, apa yang dilakukan dua kementerian yakni Kementerian Luar Negeri yang mengirimkan nota protesnya dan Kementerian Kelautan dan Perikanan yang telah melakukan penangkapan terhadap para nelayan asal China tersebut merupakan tindakan yang sudah tepat.

“Ya diapresiasilah, sikap kementerian kelautan dan kementerian luar negeri yang telah melakukan protes tersebut,” imbuhnya.

Namun, Heri menuturkan, ke depan, hal ini akan bisa terulang kembali karena pemerintahan tidak mengambil sikap tegas serta diselesaikan secara tuntas.

Dia menyebutkan, bukan hanya soal kapal ikan yang melakukan "illegal fishing" tapi ini pencaplokan tersistematis untuk tujuan-tujuan jangka panjang, untuk itu, 'Sengketa Natuna' nampaknya akan merupakan bom waktu, dan akan meledak jika sudah capai tujuannya.

Konflik Natuna merupakan perebutan sumber daya alam (SDA), selain minyak bumi, wilayah itu menyimpan cadangan gas alam terbesar di dunia.

“Sudah banyak ahli mengklaim Natuna adalah 'surga' energi terbesar di dunia yang bernilai ekonomi tinggi. Di Blok Natuna D-Alpha misalnya, tersimpan cadangan gas dengan volume 222 triliun kaki kubik (TCT). Cadangan itu tidak akan habis hingga 30 tahun mendatang,” Ungkapnya.

Sementara itu, potensi gas yang recoverable di Kepulauan Natuna sebesar 46 tcf (triliun cubic feet) atau setara dengan 8,383 miliar barel minyak. Nah ini, jika digabung dengan minyak bumi, terdapat sekitar 500 juta barel cadangan energi hanya di blok tersebut. Bahkan, jika diuangkan, kekayaan gas Natuna bernilai mencapai Rp.6.000 triliun.

“Coba bayangkan, nilai itu sama dengan 3 kali lipat APBN saat ini,” paparnya

Politisi Partai Gerindra ini mengungkapkan, beberapa perusahaan asing seperti Petronas (Malaysia), ExxonMobil (AS), Chevron (AS), Shell (Inggris-Belanda), StatOil (Norwegia), ENI (Italia), Total Indonesie (Perancis), dan China National Petroleum Corporation (China) pernah bercokol di sana dan ikut menikmati untung besar.

Lebih jauh, dirinya menyampaikan China akan terus ngotot mencaplok Natuna karena mereka tahu akan untung besar dari pendapatan gas.

Dia mengingatkan bahwa pemerintah jangan sekali-kali berbicara ini adalah urusan negara lain, jangan juga berbicara tidak ikut-ikutan. Sebab, Natuna beserta kekayaan alam yang terkandungnya merupakan milik dan berada diwilayah kedaulatan NKRI.

“Kedaulatan Natuna dan laut teritorial milik Indonesia, Pemerintah harus tegas, Jangan biarkan bangsa asing menginjak-injak wilayah Kedaulatan NKRI walau hanya sejengkal,” Tutupnya.

Legislator: Lecehkan Kedaulatan NKRI, Tiongkok ‘Mencaplok’ Wilayah Natuna


NBCIndonesia.com - Anggota Komisi XI DPR RI Heri Gunawan mengatakan, bahwa sikap yang ditunjukkan oleh Kapal Coast-Guard Tiongkok yang terkesan menghalang-halangi kapal Kementerian Kelautan dan perikanan (KKP) yang hendak menangkap KM Kway Fey yang memasuki perairan Natuna sebagai wilayah NKRI harus dipandang sebagai bentuk pelecehan terhadap kedaulatan Republik Indonesia.

Adapun adanya klaim Tiongkok bahwa nelayannya melakukan kegiatan masih di wilayah perairannya, hal tersebut sama sekali tidak memiliki landasan yang kuat berdasarkan peraturan hukum laut internasional.

“Terkait masalah klaim Tiongkok tentang traditional fishing zone tidak ada dalam The United Nations Convention on The Law of The Sea (UNCLOS), kalaupun ada tentang traditional fishing rights itu harus atas kesepakatan bersama di antara negara, jadi klaim tersebut tidak berdasar,” ujar Heri, kepada wartawan, di Jakarta, Jumat (25/03).

Heri menuturkan, apa yang dilakukan dua Kementerian yakni Kementrian Luar Negeri (Kemenlu) yang mengirimkan nota protesnya dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang telah melakukan penangkapan terhadap para nelayan ‘maling’ asal Tiongkok tersebut merupakan tindakan yang sudah tepat.

Namun, Heri menilai sikap-sikap Tiongkok seperti itu sangat bisa jadi akan terulang kalau pemerintah Republik Indonesia tidak mengambil sikap tegas dan tuntas.

“Ini bukan hanya soal kapal ikan yang melakukan illegal fishing tapi ini pencaplokan tersistematis untuk tujuan-tujuan jangka panjang,” cetusnya.

Selain itu, lanjut ia, sengketa Natuna nampaknya merupakan ‘bom waktu’. Sebab, menurutnya, konflik Natuna adalah soal perebutan sumber daya alam (SDA).



“Selain minyak bumi, wilayah itu menyimpan cadangan gas alam terbesar di dunia. Banyak ahli mengklaim Natuna adalah ‘surga’ energi terbesar di dunia yang bernilai ekonomi tinggi. Di Blok Natuna D-Alpha, misalnya, tersimpan cadangan gas dengan volume 222 triliun kaki kubik (TCT). Cadangan itu tidak akan habis hingga 30 tahun mendatang. Sementara itu, potensi gas yang recoverable di Kepulauan Natuna sebesar 46 tcf (triliun cubic feet) atau setara dengan 8,383 miliar barel minyak. Lebih jauh, jika digabung dengan minyak bumi, terdapat sekitar 500 juta barel cadangan energi hanya di blok tersebut,” ungkap Politisi Partai Gerindra tersebut.

Bahkan, tambah dia, jika diuangkan, kekayaan gas Natuna bernilai mencapai Rp6.000 triliun.

“Nilai itu sama dengan 3 kali lipat APBN saat ini,” terang dia.

Lebih lanjut, Heri mengungkapkan  beberapa perusahaan asing seperti Petronas (Malaysia), ExxonMobil (AS), Chevron (AS), Shell (Inggris-Belanda), StatOil (Norwegia), ENI (Italia), Total Indonesie (Perancis), dan China National Petroleum Corporation (Tiongkok) pernah ‘bercokol’ di Natuna dan ikut menikmati untung besar.

“Jadi, cara-cara Tiongkok yang melecehkan Kedaulatan Republik Indonesia bisa jadi merupakan bagian dari upaya sistematis Tiongkok yang ingin mencaplok Natuna karena motif penguasaan Sumber Daya Alam,”

“Rasanya Tiongkok akan terus ngotot mencaplok Natuna karena mereka tahu akan untung besar dari pendapatan gas. Sedang kita, buntung. Pendapatan sektor Migas pasti terpuruk,” ungkapnya.

Heri pun mengingatkan kepada pemerintah agar jangan bersikap ‘masa bodoh’ dengan masalah tersebut. Sebab, kata dia, Natuna beserta kekayaan alam yang terkandungnya merupakan kedaulatan NKRI.

“Kedaulatan Natuna milik Indonesia, kedaulatan laut teritorial Indonesia, Jangan biarkan bangsa asing menginjak-injak wilayah Kedaulatan NKRI walau hanya sejengkal,” tandasnya.(akt)