Berjuang Bersama Gerindra dan Prabowo Subianto
Mengamalkan TRIDHARMA Kader Partai Gerindra : Berasal Dari Rakyat, Berjuang Untuk Rakyat, Berkorban Untuk Rakyat.
Heri Gunawan Seminar Nasional
Tantangan dan Peluang Bisnis bagi Generasi Milenial.
Jalan Santai
JHeri Gunawan Apresiasi Peluncuran Program Pemuda Pelopor Desa di Sukabumi
Kunjungan Ketua Umum GERINDRA
Prabowo Subianto Melakukan Kunjungan ke Sukabumi
Bantuan Hand Traktor
Heri Gunawan Memfasilitasi Bantuan 30 Unit Traktor Untuk Gapoktan di Kabupaten Sukabumi Pada Tahun 2015
Kunjungan Kerja BKSAP DPR RI Ke Australia
Heri Gunawan Sebagai Anggota BKSAP DPR RI saat berkunjung dan berdialog dengan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Australia
Tampilkan postingan dengan label Sidak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sidak. Tampilkan semua postingan
Anggota DPR Temukan Beras Kotor di Bulog Sukabumi
INILAHCOM, Sukabumi - Anggota DPR RI Heri Gunawan menemukan beras kotor dan berbau di gudang Badan Urusan Logistik (Bulog) Pasir Halang Sukabumi, Jalan Sukabumi-Cianjur, Desa Pasir Halang, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi, Minggu (8/3/2015).
Wakil rakyat dari Fraksi Partai Gerindra itu menemukan beras bau saat menggelar inspeksi mendadak (sidak) bersama sejumlah anggota DPRD Sukabumi. Beras yang banyak dedaknya itu ditemukan saat ratusan karung diturunkan dari truk.
"Saya kecewa sekali melihat kondisi seperti ini. Katanya Sukabumi itu lumbung padi, banyak sekali sawah di daerah selatan," kata Heri kepada wartawan di sela-sela sidak, Minggu (8/3/2015).
Apalagi, lanjut Wakil Ketua Komisi VI itu, sebelumnya dia telah mendapatkan informasi dari Bupati Sukabumi Sukmawijaya bahwa hasil panen beras di Kabupaten Sukabumi surplus. Tapi kenyataannya masih mendapat bantuan Bulog.
"Beras yang ada ini juga dikirim dari Cirebon dan Subang. Pas tadi kami cek, kondisinya jauh berbeda, berasnya banyak dedaknya," kata anggota DPR RI dari daerah pemilihan (Dapil) Kota dan Kabupaten Sukabumi itu.
Menurut dia, Bulog sudah mendapatkan penyertaan modal negara (PMN) sebesar Rp 1 triliun. Namun beras yang dihasilkan kualitasnya tidak bagus. Padahal Bulog didirikan untuk menunjang ketahanan pangan masyarakat.
"Bila pangannya seperti ini, masa dibilang raskin terus? Harus dibuat beras masyarakat yang lebih baik. Makanya kita akan pertanyakan nanti dalam RDP (rapat dengan pendapat), duit itu dipakai apa, buat beli apa, kok beras seperti itu, nggak lucu rasanya," ucapnya.
Ke depan, lanjut Heri, Bulog harus memperbaiki tata niaganya, jangan sampai kelangkaan beras ini dimanfaatkan oleh para pedagang besar atau oleh orang di Bulog sendiri.
"Jangan-jangan sengaja memang didrop yang jelek, supaya ada impor masuk. Siapa yang masuk, hanya pedagang besar yang akan menikmatinya, pedagang kecil tidak ada, masyarakat kecil yang dirugikan," pungkas Heri.
Kepala Bulog Subdivre Cianjur Budi Setiawan mengakui persediaan beras di Gudang Bulog Pasir Halang Sukabumi memang masih tergantung dari Sub Divre daerah lain, seperti dari Cirebon dan Subang. Karena kelompok tani di Sukabumi masih cenderung menjual hasil panen ke pasar.
"Jika ada beras yang kualitasnya jelek maka akan diolah di mesin agar lebih baik. Proses pemilahan ini nantinya akan dilaporkan ke pusat," kata Budi.
Menurut Budi, persediaan beras yang ada di gudang Bulog sesuai Inpres merupakan beras milik pemerintah dan hanya satu jenis, yaitu beras medium. Jadi beras yang dipergunakan untuk operasi pasar (OP) maupun raskin kualitasnya sama dari beras jenis medium.
"Untuk perputaran beras yang ada di gudang ini maksimal tiga hingga empat bulan harus sudah keluar," ujar dia.
Terkait OP beras yang dikeluhkan warga Kota Sukabumi, Budi mengatakan sebelum dilaksanakan OP beras pihaknya sudah berkoordinasi dan memberikan contoh kepada pihak Pemkot Sukabumi berupa beras jenis medium.
"Dari hasil pengecekan sebelumnya, kualitas beras OP dinilai masih baik. Meskipun kemungkinan ada satu atau dua yang terlewat dari pengecekan," jawab Budi. [hus]
Kecewa Kualitas Beras Bulog Jelek
Heri: PMN Rp3 T Dipakai Buat Apa?
SUKABUMI - Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Heri Gunawan mempertanyakan efektivitas penggunaan dana penyertaan modal negara (PMN) sebesar Rp3 triliun untuk Bulog. Penyebabnya, meskipun sudah mendapatkan suntikan dana dengan nilai cukup fantastis, tetapi kualitas beras dinilai Heri masih sangat jelek.
"Bulog baru saja dapat PMN sebesar Rp3 triliun. Duitnya dipakai buat apa, jika kualitas berasnya kok masih seperti ini. Gak lucu rasanya," tegas Heri di sela-sela peninjauan stok dan kualitas beras di Gudang Bulog Sukabumi, Minggu (8/3).Saat meninjau stok beras, Heri tercengang melihat kualitas beras yang ada di Gudang Bulog. Bahkan dirinya sempat mengambil sampel antara beras di satu karung dengan karung lainnya, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya karena warna beras kekuning-kuningan serta masih terdapat banyak gabah."Saya sangat kecewa dengan kualitas beras yang akan didistribusikan ke masyarakat. Warnanya kekuning-kuningan dan masih banyak gabahnya. Dengan harga sebesar Rp6.600, sangat tidak seimbang dengan kualitasnya," kata Heri.
Dia pun kecewa begitu mengetahui jika pasokan beras di Gudang Bulog Sukabumi harus didroping dari Cirebon. Padahal, Kabupaten Sukabumi diklaim sebagai salah satu lumbung padi di Jawa Barat. "Katanya Kabupaten Sukabumi itu lumbung beras dengan tingkat surplus mencapai hampir 250 ribu-350 ribu ton. Tapi kenapa harus didroping dari Cirebon? Apalagi kualitas beras yang akan disalurkan ke masyarakat pun lebih mirip dedak," jelasnya.
Heri mengaku tidak mengetahui persis alasan rendahnya kualitas beras di Gudang Bulog Sukabumi, tidak menutup kemungkinan ada 'permainan' agar bisa mengimpor beras dari negara lain. "Jangan-jangan droping beras berkualitas jelek ini diduga disengaja agar bisa mengimpor dari negara lain," katanya.
Rencana pemerintah menaikkan harga pembelian pemerintah (HPP) beras dari semula Rp6.600 menjadi Rp7.400 pun, dinilai Heri, tak akan berpengaruh signifikan. Dia menyarankan yang lebih dulu harus dibenahi adalah tata niaga di tingkat Bulog. "Tak akan ngaruh (menaikkan HPP). Yang mesti dibenahi dan diperbaiki adalah tata niaganya di tingkat Bulog yang fungsinya untuk menunjang ketahanan pangan," tegas Heri.
Kepala Bulog Subdivre Wilayah Cianjur Budi Setiawan tak menampik jika pasokan beras masih mengandalkan dari daerah lain. Namun dia mengaku selalu mewanti-wanti agar kiriman beras harus berkualitas bagus. "Tingkat penyerapan pembelian beras dari pertani selama 2014 memang belum maksimal. Petani masih banyak menjual ke pasar," kata Budi saat mendampingi Heri Gunawan.
Dia berharap pada 2015 rencana pemerintah menaikkan HPP beras bisa terealisasi. Sehingga para petani bisa lebih semangat menjual hasil panennya ke Bulog. "Kami tunggu saja nanti keputusan pemerintah soal rencana menaikkan HPP beras. Sesuai Instruksi Presiden, saat ini HPP beras sebesar Rp6.600. Rencananya jika HPP naik akan menjadi Rp7.400. Kita juga berharap, pada April saat musim panen pasokan beras bisa dibeli dari petani lokal," pungkasnya.(gg/vry)
Bulog Terima PMN Rp3 T, tapi Kulitas Berasnya Jelek
SUKABUMI – Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Heri Gunawan mempertanyakan efektivitas penggunaan dana penyertaan modal negara (PMN) sebesar Rp3 triliun untuk Bulog. Penyebabnya, meskipun sudah mendapatkan suntikan dana dengan nilai cukup fantastis, tetapi kualitas beras dinilai Heri masih sangat jelek.
“Bulog baru saja dapat PMN sebesar Rp3 triliun. Duitnya dipakai buat apa jika kualitas berasnya kok masih seperti ini. Gak lucu rasanya,” tegas Heri di sela-sela peninjauan stok dan kualitas beras di Gudang Bulog Sukabumi, Minggu (8/3/2015).
Saat meninjau stok beras, Heri tercengang melihat kualitas beras yang ada di Gudang Bulog. Bahkan dirinya sempat mengambil sampel antara beras di satu karung dengan karung lainnya, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya karena warna beras kekuning-kuningan serta masih terdapat banyak gabah.
“Saya sangat kecewa dengan kualitas beras yang akan didistribusikan ke masyarakat. Warnanya kekuning-kuningan dan masih banyak gabahnya. Dengan harga sebesar Rp6.600, sangat tidak seimbang dengan kualitasnya,” kata Heri.
Dia pun kecewa begitu mengetahui jika pasokan beras di Gudang Bulog Sukabumi harus didroping dari Cirebon. Padahal, Kabupaten Sukabumi diklaim sebagai salah satu lumbung padi di Jawa Barat.
“Katanya Kabupaten Sukabumi itu lumbung beras dengan tingkat surplus mencapai hampir 250 ribu-350 ribu ton. Tapi kenapa harus didroping dari Cirebon? Apalagi kualitas beras yang akan disalurkan ke masyarakat pun lebih mirip dedak,” jelasnya.
Heri mengaku tidak mengetahui persis alasan rendahnya kualitas beras di Gudang Bulog Sukabumi, tidak menutup kemungkinan ada ‘permainan’ agar bisa mengimpor beras dari negara lain. “Jangan-jangan droping beras berkualitas jelek ini diduga disengaja agar bisa mengimpor dari negara lain,” katanya.
Rencana pemerintah menaikkan harga pembelian pemerintah (HPP) beras dari semula Rp6.600 menjadi Rp7.400 pun, dinilai Heri, tak akan berpengaruh signifikan. Dia menyarankan yang lebih dulu harus dibenahi adalah tata niaga di tingkat Bulog.
“Tak akan ngaruh (menaikkan HPP). Yang mesti dibenahi dan diperbaiki adalah tata niaganya di tingkat Bulog yang fungsinya untuk menunjang ketahanan pangan,” tegas Heri.
Kepala Bulog Subdivre Wilayah Cianjur Budi Setiawan tak menampik jika pasokan beras masih mengandalkan dari daerah lain. Namun dia mengaku selalu mewanti-wanti agar kiriman beras harus berkualitas bagus.
“Tingkat penyerapan pembelian beras dari pertani selama 2014 memang belum maksimal. Petani masih banyak menjual ke pasar,” kata Budi saat mendampingi Heri Gunawan.
Dia berharap pada 2015 rencana pemerintah menaikkan HPP beras bisa terealisasi. Sehingga para petani bisa lebih semangat menjual hasil panennya ke Bulog.
“Kami tunggu saja nanti keputusan pemerintah soal rencana menaikkan HPP beras. Sesuai Instruksi Presiden, saat ini HPP beras sebesar Rp6.600. Rencananya jika HPP naik akan menjadi Rp7.400. Kita juga berharap, pada April saat musim panen pasokan beras bisa dibeli dari petani lokal,” pungkasnya.(gg)
Sumber : Sepertiini.com
Wakil Ketua Komisi VI DPR Temukan Beras Bulog Kualitas Jelek
SUKABUMI (Pos Kota) – Kualitas beras di Gudang Bulog yang berlokasi di Sukaraja, Kabupaten Sukabumi jelek. Kondisi beras kurang bagus tersebut ditemukan ketika Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Heri Gunawan melakukan inspeksi mendadak (sidak).
Pantauan di lokasi, beras tersebut banyak dedaknya. Beras yang baru didatangkan dari Cirebon Minggu pagi.
“Beras banyak dedaknya. Ini mengecewakan masyarakat khususnya yang menerima beras Bulog baik raskin maupun operasi pasar (OP),” cetusnya.
Seharusnya pengadaan beras Bulog di Sukabumi berasal dari daerah sendiri. Sukabumi merupakan daerah lumbung padi karena terdapat banyak areal persawahan di selatan Sukabumi. Bahkan, Bupati Sukabumi mengklaim surplus produksi beras hingga 250 ribu ton pada 2014 lalu.
“Tata niaga beras di Bulog harus dikelola dengan lebih baik. Atau memang disengaja menyalurkan beras jelek untuk memudahkan masuknya beras impor,’’ terang politikus muda asal Partai Gerindra ini.
DPR, kata Heri, akan mempertanyakan kinerja Bulog yang telah mendapatkan penyertaan modal negara (PMN) sebesar Rp 3 triliun. Rencananya, dalam RDP (Rapat dengar pendapat-red) nanti akan ditanyakan kemana uangnya.
Kepala Bulog Subdivre Cianjur Budi Setiawan mengatakan, stok beras di Gudang Bulog Sukaraja masing tergantung kepada Subdivre daerah lain. Jika nantinya ada beras yang kualitasnya jelek maka akan diolah di mesin agar lebih baik. Proses pemilahan ini nantinya akan dilaporkan ke pusat.
“Beras yang disalurkan untuk OP maupun raskin sama kualitasnya yakni jenis beras medium,” terangnya.
(sule/sir)
Reses, Anggota DPR Dapil Sukabumi Sidak Harga Sembako
15.12.14
Heri Gunawan, Kliping Berita, Komisi VI, PAsar Pelita, Reses, Sembako, Sidak, Sukabumi
No comments
REPUBLIKA.CO.ID, SUKABUMI—Harga sejumlah barang kebutuhan pokok
masyarakat di pasaran masih tinggi. Hal ini berdasarkan pantauan Wakil
Ketua Komisi VI DPR RI Heri Gunawan yang menggunakan masa resesnya
dengan memantau harga sembako di pasar tradisional.
Dari pantauan di Pasar Pelita Kota Sukabumi, harga sembako yang cukup
tinggi adalah cabai merah. Saat ini harga cabai merah mengalahkan harga
daging ayam yakni Rp 90 ribu per kilogram. Sementara harga daging ayam
per kilogramnya hanya Rp 27 ribu hingga Rp 30 ribu per kilogram. ‘’
Harga di pasaran memang tergantung pasokan dan permintaan barang,’’ ujar
Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Heri Gunawan kepada wartawan. Saat ini
yang harganya cukup tinggi adalah cabai merah yang lebih tinggi
dibandingkan dengan yang lain.
Selain cabai sejumlah komoditas lainnya juga mengalami kenaikan harga
seperti wortel dari Rp 8 ribu per kilogram menjadi Rp 10 ribu per
kilogram. Sementara untuk komoditas daging harganya masih stabil. Harga
daging sapi misalnya bervariasi antara Rp 95 ribu hingga Rp 100 ribu per
kilogram. Sementara harga daging ayam mencapai kisaran Rp 27 ribu
hingga Rp 30 ribu per kilogram.
Dari sidak ini pula terang Heri, ia mendapatkan informasi banyaknya
retribusi yang harus dibayarkan para pedagang pasar. Akibatnya, para
pedagang harus menanggung beban yang cukup besar setiap harinya. Selain
komoditas barang pokok, komoditas lainnya yang mengalami kenaikan cukup
tinggi adalah ikan asin. ‘’ Harga ikan asin naik cukup tinggi setelah
ada kenaikan harga BBM,’’ ujar Cicah (45 tahun), pedagang ikan asin di
Pasar Pelita. Dicontohkan dia, harga ikan sepat misalnya saat ini dijual
Rp 80 ribu per kilogram. Padahal, sebelumnya hanya Rp 50 ribu per
kilogram.
Reporter : Riga Nurul Iman
Redaktur : Erdy Nasrul
Komisi VI Sidak Stasion Dan Pasar Tradisional
15.12.14
Heri Gunawan, Kliping Berita, Komisi VI, Kunker, PAsar Pelita, Reses, Sidak, Sukabumi, UKM
No comments
[SUKABUMI] Wakil
Ketua Komisi VI DPR RI, Heri Gunawan melakukan inspeksi mendadak ke stasion
kereta dan sejumlah pasar tradisional, serta pusat promosi kerajinan dan produk
usaha kecil menengah di Sukabumi.
"Sidak yang saya lakukan ini selain melaksanakan reses, juga ingin
mengetahui sejauhmana kesiapan pelayanan kepada masyarakat serta pengaruh
ketersediaan dan harga barang pascanaiknya harga bahan bakar minyak atau
BBM," kata Heri kepada Antara di Sukabumi, Minggu (14/12).
Menurutnya, dari hasil sidak ini ditemukan ada beberapa kejanggalan seperti
jalur kereta api di dekat Stasion Sukabumi yang terhalang oleh pedagang kaki
lima, adanya restribusi ilegal yang menjerat pedagang dan kondisi Pasar Pelita
Kota Sukabumi yang sudah tidak layak digunakan.
Bahkan khusus untuk Pasar Pelita, keterangan dari pedagang pasar tradisional
ini sudah 24 tahun belum pernah diperbaiki oleh pihak pengembang, insvestor atau
pemerintah. Bahkan, kondisinya sudah parah dan rawan roboh serta kotor dan
becek. Maka dari itu, hasil sidak ini akan menjadi bahan evaluasi pihaknya di
DPR.
"Untuk pusat promosi produk UKM sudah bagus, namun untuk stasion dan pasar
di Kota Sukabumi masih terlihat kumuh bahkan bisa dikatakan tidak layak
khususnya pasar tradisional," tambahnya.
Heri juga akan berkoordinasi dengan PT Kereta Api Indonesia dan Pemkot Sukabumi
untuk menertibkan jalur perlintasan KA agar tidak terganggu oleh PKL yang menggelar
dagangannya di pinggi rel yang bisa membahayakan pedagang itu sendiri juga
menghambat laju angkutan masal ini.
Rencananya, sidak ini tidak hanya akan dilakukan pada saat reses saja, tetapi
secara rutin apakah setelah ada sidak ini ada pembenahan atau tidak dan akan
dijadikan evaluasi di DPR nanti, apalagi Kota dan Kabupaten Sukabumi merupakan
daerah pemilihannya pada pemilihan legislatif lalu.
Sementara, Kepala Stasion Sukabumi, Tasiman mengaku bahwa setiap KA Pangrango
jurusan Sukabumi-Bogor akan melintas terhambat dan petugas harus selalu
mengingatkan PKL agar tidak menggelar dagangan karena kereta akan melintas.
Tetapi, setelah beberapa kali ditegur bahkan hingga saat ini PKL masih tetap
membandel untuk menggelar dagangannya di perlintas KA. [Ant/L-8]
Sumber : Suara Pembaruan Berita Satu
Langganan:
Postingan (Atom)