Berjuang Bersama Gerindra dan Prabowo Subianto

Mengamalkan TRIDHARMA Kader Partai Gerindra : Berasal Dari Rakyat, Berjuang Untuk Rakyat, Berkorban Untuk Rakyat.

Heri Gunawan Seminar Nasional

Tantangan dan Peluang Bisnis bagi Generasi Milenial.

Jalan Santai

JHeri Gunawan Apresiasi Peluncuran Program Pemuda Pelopor Desa di Sukabumi

Kunjungan Ketua Umum GERINDRA

Prabowo Subianto Melakukan Kunjungan ke Sukabumi

Bantuan Hand Traktor

Heri Gunawan Memfasilitasi Bantuan 30 Unit Traktor Untuk Gapoktan di Kabupaten Sukabumi Pada Tahun 2015

Kunjungan Kerja BKSAP DPR RI Ke Australia

Heri Gunawan Sebagai Anggota BKSAP DPR RI saat berkunjung dan berdialog dengan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Australia

Tampilkan postingan dengan label PTPN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PTPN. Tampilkan semua postingan

Anggota DPR Gelar RDP Bersama Direksi BUMN

Sukabumi, (Antaranews Bogor) - Wakil Komisi VI DPR RI, Heri Gunawan pada masa reses ini, lebih memilih menggelar rapat dengar pendapat dengan Direksi Badan Usaha Milik Negara atau BUMN di Rumah Aspirasi Inspirasi di Kota Sukabumi.

"RDP ini bertujuan untuk mengetahui apa yang menjadi hambatan pihak BUMN dalam bersinergi dengan pihak pemerintah daerah, baik Kota maupun Kabupaten Sukabumi," katanya di Sukabumi, Sabtu.

Menurut dia, ada beberapa isu strategis yang terungkap pada RDP antara direksi dari BUMN dan Pemda Sukabumi seperti masalah ketahanan pangan, insfrastruktur, fasilitas, transportasi dan lain-lain. Namun, yang paling menonjol adalah masalah pangan, seperti terungkap masalah yang dihadapi Badan Urusan Logistik (Bulog).

Seperti mahalnya harga beras di Sukabumi yang menjadi sesuatu hal yang aneh karena Bulog daerah distribusi Sukabumi-Cianjur mempunyai gudang di wilayah Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi sehingga ongkos distribusi beras dari daerah selatan atau Pakidulan menjadi naik karena harus didatangkan ke gudang di Sukaraja untuk disimpan dan kembali lagi ke daerah Pakidulan didistribusikan.

Seharusnya, ada gudang di daerah Pakidulan Sukabumi untuk menopang distribusi besar lokal yang diserap Bulog sehingga biayanya lebih efisien. Apalagi, saat ini banyak laporan yang masuk bahwa beras dari Bulog kualitasnya buruk seperti berkutu, bau dan berwarna kuning atau kurang layak konsumsi.

"Ini yang menjadi perhatian kami dan akan dibawa ke sidang DPR nanti, agar masalah ini bisa segera diselesaikan yang tujuan akhirnya untuk ketahanan pangan," tambahnya.
Selain masalah ketahanan pangan, isu lainnya yang menjadi masalah utama adalah insfrastruktur jalan. Bagaimana pun jalan merupakan hal yang utama dalam mendongkrak ekonomi suatu daerah. Sehingga dengan adanya masukan baik dari BUMN maupun pemda setempat diharapkan bisa menjadi solusi untuk kemajuan Sukabumi.
"Kami akan berupaya di DPR khususnya di Komisi VI agar progam-progam untuk peningkatan kesejahteraan bisa dengan mudah masuk ke Sukabumi, karena daerah ini merupakan salah satu daerah penopang Ibu Kota Jakarta, katanya.

Sementara, Direktur Utama PTPN VIII Jabar, Dadi Sunardi mengatakan, pihaknya akan siap membantu seperti pemberian bantuan dan penyediaan lahan yang salah satunya untuk mendongkrak progam kedaulatan pangan. Untuk sementara ini, lahan yang tidak digunakan dipakai untuk menanam buah-buahan yang hasilnya sudah ekspor dan diharapkan melalui progam ini bisa membantu progam pemerintah dalam swasembada pangan dari sisi buah-buahan.

Komisi VI Pantau BUMN Penerima PMN

Komisi VI DPR RI melakukan kunjungan spesifik ke Medan, Provinsi Sumatera Utara. Sejumlah perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang diproyeksikan akan memperoleh PMN (Penyertaan Modal Negara) menjadi fokus kunjungan kali ini. 

"Kunjungan Spesifik Komisi VI masa persidangan II 2014-2019 ini merupakan kewajiban konstitusional DPR dalam rangka melakukan fungsi pengawasan dan mengawal kebijakan pemerintah khususnya terkait BUMN," kata Ketua Tim Kunjungan Heri Gunawan di Medan Sumut, Minggu (15/2/15).

BUMN yang memperoleh PMN yang dikunjungi diantaranya PT. Angkasa Pura II, PTPN III, Hutama Karya. Namun menurut politisi FP Gerindra yang juga Wakil Ketua Komisi VI ini, mengatakan  pertemuan dengan BUMN yang tidak menerima PMN juga diagendakan seperti dengan PT. Inalum dan Pelindo I.

"Kita ingin mendapatkan masukan dan melihat sendiri kemajuan BUMN kita di lapangan," kata anggota Komisi VI dari F-PG Betti Shadiq Pasadigoe usai pertemuan dengan PT Angkasa Pura II dan meninjau fasilitas Bandara Internasional Kualanamu. Ia terlihat antusias walaupun bertugas pada hari Minggu yang seharusnya hari libur.

Anggota Komisi VI lain yang menjadi bagian dari Tim Kunjungan diantaranya Irmadi Lubis (F-PDI Perjuangan), Eka Sastra (F-PG), Ambar Tjahyono (F-PD), Iskandar Syaicu (F-PPP) dan Tifatul Sembiring (F-PKS).

Tifatul Sembiring berharap, BUMN dapat mengambil peran penting sebagai pendorong kemajuan ekonomi nasional. Sebagai salam pembuka Tifatul yang juga mantan Menkominfo memberikan hadiah pantun bagi jajaran manajemen BUMN di Sumut. "Walaupun sudah bercampur santan. Tetap saja harus diaduk rata. Kalau sudah sampai di Medan. Terasa berat balik ke Jakarta." (iky)foto:ical/parle/iw.

Komisi VI Setuju Pemberian PNM dengan Catatan

Jakarta (dpr.go.id) - Komisi VI DPR mendukung pemberian PMN pada BUMN-BUMN dalam RAPBN-P Tahun Anggaran 2015, namun tetap dengan catatan.  Wakil Ketua Komisi VI DPR Heri Gunawan mengemukakan hal itu di DPR Kamis (13/2) siang.

Menurutnya, catatan tersebut antara lain merekomendasikan temuan BPK-RI untuk 14 BUMN, yaitu PT Aneka Tambang Pura II (Persero), PT pelayaran Nasional Indonesia (Persero), PT Pindad (Persero), PT Pelabuhan Indonesia IV (Persero), PT Kereta Api Indonesia (Persero), Perum Perumnas, PT Sang Hyang Seri m(Peserro), Perum Perikanan Indonesia, PT Perkebunan Nusantara IX, PT Perkebunan Nusantara X, dan Perum Bulog.

Komisi VI DPR telah merekomendasikan kepada Kementerian BUMN untuk meningkatkan fungsi pembinaan kepada BUMN penerima PMN untuk memenuhi pengaturan dan data kelola keuangan yang baik sesuia dengan ketentuan dan Peraturan Perundang-Undangan.

Dikatakan juga, PMN tidak digunakan untuk membayar hutang perusahaan penerima PMN. Pelaksanaan Right Issue  tidak mengurangi komposisi kepemilikan saham pemerintah saat ini pada BUMN terkait.

Penggunaan PMN dilakukan dan dicatat dalam rekening terpisah. BUMN penerima PMN harus menerapkanGood Corporate Governance (GCG, dan perlu pengawasan secara ketat atas penggunaan PMNagar sesuai dengan rencana bisnis yang diajukan pada Komisi VI DPR.

Selanjutnya Komisi VI DPR akan melakukan pengawasan penggunaan PMN BUMN. Dalam hal pengadaan barang dan jasa, dalam menggunakan dana PMN meminta kepada Kementerian BUMN untuk mengutamakan produk dalam negeri dan sinergi BUMN. Hal ini betul-betul harus diawasi dengan sungguh-sungguk, karena sekali bermasalah maka selanjutnya akan merugikan keuangan negara.

“Dalam melaksanakan PMN, Kementerian BUMN sebagai pembina BUMN harus memperhatikan catatan-catatan yang telah disampaikan dalam Rapat Kerja antara Komisi VI DPR dengan Pemerintah, saat membahas persetujuan PMN BUMN,“ tegas Heri lagi. (Spy)/

foto:iwan armanias/parle/iw.