Berjuang Bersama Gerindra dan Prabowo Subianto

Mengamalkan TRIDHARMA Kader Partai Gerindra : Berasal Dari Rakyat, Berjuang Untuk Rakyat, Berkorban Untuk Rakyat.

Heri Gunawan Seminar Nasional

Tantangan dan Peluang Bisnis bagi Generasi Milenial.

Jalan Santai

JHeri Gunawan Apresiasi Peluncuran Program Pemuda Pelopor Desa di Sukabumi

Kunjungan Ketua Umum GERINDRA

Prabowo Subianto Melakukan Kunjungan ke Sukabumi

Bantuan Hand Traktor

Heri Gunawan Memfasilitasi Bantuan 30 Unit Traktor Untuk Gapoktan di Kabupaten Sukabumi Pada Tahun 2015

Kunjungan Kerja BKSAP DPR RI Ke Australia

Heri Gunawan Sebagai Anggota BKSAP DPR RI saat berkunjung dan berdialog dengan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Australia

Tampilkan postingan dengan label CBD. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CBD. Tampilkan semua postingan

PT Medco Dapat Dana Pinjaman China, Heri Gunawan: Itu Diluar Konteks Perjanjian

Jakarta, Aktual.com — Mantan Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Heri Gunawan mengungkapkan bahwa banyak dana pinjaman yang berasal dari China Development Bank (CDB) kepada tiga bank BUMN, peruntukannya tidak sesuai dengan perjanjian, yakni untuk pembangunan infrastruktur.
Salah satunya, dana pinjaman diberikan kepada PT Medco Energi milik Arifin Panigoro sebesar US$395 juta untuk membeli saham PT Newmont Nusa Tenggara (NNT).
“Nah itu dia (pemberian dana ke PT Medco Energi), itu diluar konteks perjanjian,” kata Heri di Komplek Parlemen, Senayan, Selasa (12/4).
Ia pun mengatakan hanya ada beberapa persen dana pinjaman tersebut disalurkan sesuai perjanjian, namun persentasenya sedikit.
“Ada beberapa yang disalurkan untuk infrastruktur tetapi persentasenya kecil sekali. Lebih besar diberikan ke non infrastruktur,” sebut anggota komisi XI DPR RI itu.

Bahas Pinjaman China, BRI Kena Semprot DPR

JAKARTA - Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) melalui Komisi XI memberhentikan rapat dengar pendapat bersama perbankan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang membahas peminjaman dana dari China Development Bank (CDB).
Salah satu anggota Komisi XI Heri Gunawan mengatakan, pemberhentian rapat dikarenakan seluruh anggota Komisi XI meminta penjelasan terkait pinjaman bank BUMN terhadap China. Pasalnya, daftar penerima debitur penerima pinjaman Bank BUMN tidak semua dari sektor infrastruktur.
"Kan niatnya untuk infrastruktur ngomongnya. Tapi nyatanya contoh debitur BRI, PT Sugar Labinta, ini perkebunan gula. Cek di situ ini pabrik gula rafinasi, ini kan bertentangan," ujar Heri di Gedung DPR Jakarta, Senin (14/3/2016).
Menurut Heri, terkait siapa debitur penerima pinjaman, DPR dalam hal ini Komisi XI tidak mempersalahkan BNI,BRI dan Mandiri, karena ketiga bank BUMN tersebut hanya sebagai pelaksana.
"Kitakan tidak bisa tanya mereka. Ketiga perbankan ini kan hanya pelaksana, kalau kinerja baru perlu kita ketahui," ujarnya.
Berikuti ini, daftar nama debitur Bank Rakyat Indonesia :
1. PT Poso Energy Satu Pamona, bidang usaha energi (power plant), pinjaman sebesar USD143 juta.
2. PT Bosowa Energy, bidang usaha energi (power plant), pinjaman sebesar USD90,9 juta.
3. PT Kertanegara Energi Perkasa, bidang usaha energi (power plant), pinjaman sebesar USD85,9 juta.
4. PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, bidang usaha manufaktur (baja), pinjaman sebesar USD110 juta.
5. PT Pindo Deli, bidang usaha manufaktur (pulp and paper), pinjaman sebesar USD221 juta.
6. PT Indah Kiat, bidang usaha manufaktur (pulp and paper), pinjaman sebesar USD175 juta.
7. PT Semen Bosowa, bidang usaha manufaktur (semen), pinjaman sebesar USD55,7 juta.
8. PT Tangki Merak, bidang usaha manufaktur (minyak bumi), pinjaman sebesar USD75 juta.
9. PT Sugar Labinta, bidang usaha perkebunan (gula), pinjaman sebesar USD43,4 juta.
(rzy)

Perusahaan Wapres JK dan Arifin Panigoro Dapat Kredit Utangan dari China, Ada Sesuatu?

POSMETRO INFO - Dari beberapa nama perusahaan yang mendapat kredit dana utangan dari China, ternyata terdapat nama-nama perusahaan milik Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) dan Arifin Panigoro.

Hal ini seolah menjadi semakin kuatnya adanya ‘sesuatu’ dibalik penyaluran dana hasil utangan dari China Development Bank (CDB) sebanyak USD3 miliar kepada tiga bank BUMN, BRI, BNI, dan Bank Mandiri masing-masing USD1 miliar.

Bahkan ada satu perusahaan yang entah milik siapa tapi mendapat kucuran pinjaman dari ketiga bank itu. Yakni, PT Indah Kiat. Bahkan perusahaan ini bergerak di sektor pulp and paper yang sepertinya jauh dari konteks pembangunan infrastruktur.

“Cuma kami tidak bisa tanya ke mereka (direksi ketiga bank itu). Karena ketiganya itu hanya pelaksana. Yang dibelakangnya itu pemerintah, bisa jadi Menteri BUMN,” tukas anggota Komisi XI DPR, Heri Gunawan seusai raker dengan ketiga bank BUMN itu di Gedung DPR, Jakarta, Senin (14/3).

Dia memberikan data kepada media, perusahaan-perusahaan debitur yang menerima pinjaman dari hasil utangan itu. “Yang perlu dicurigai itu perusahaan PT Indah Kiat. Dari ketiga bank itu semuanya memberi kredit ke Indah Kiat. Ini ada apa?” tegasnya.

PT Indah Kiat memang mendapat kucuran kredit dari BRI sebanyak USD175 juta, dari Mandiri sebesar USD50 juta, dan dari BNI sebanyak Rp1,067 triliun.

“Kok tiga-tiganya ada Indah Kiat-nya (di daftar debitur). Terus mana untuk infrastrukturnya?” tegas Heri lagi.

Kemudian perusahaan milik JK dan Arifin juga ada di daftar tersebut. Perusahaan PT Bosowa Energi mendapat kredit dari BRI sebanyak USD143 juta. Dan dari bank yang sama ada PT Semen Bosowa yang diberi pinjaman USD55,7 miliar.

Sementara perusahaan milik Arifin ada PT Medco E&P Tomori Sulawesi yang dikucuri Mandiri sebanyak USD50 juta. Dan juga ada PT Medco Energi International Tbk juga dapat kredit dari Mandiri sebanyak USD245 juta.

“Juga ada nama perusahaan PT Sugar Labinta sebuah perkebunan gula rafinasi yang malah mendapat kredit dari BRI sebesar USD43,3 juta. Lagi-lagi mana infrastrukturnya? Itu gula rafinasi lagi,” kecam dia. [aktual]